Powered by Blogger.
  • Home
  • Aboutme
twitter instagram Email

KOMANG JODI INDRA PUJAWAN

Writing about my Life Journey




...... pengalaman ini merupakan yang pertama sepanjang hidup menjadi anak rantauan.....

banyak pertanyaan :
- kenapa USA negara tujuan untuk memantapkan skill?
- kok gak di Indonesia aja?
- apakah nanti balik ke Indo buat nerusin apa yang diperoleh disana??

well, aku mulai kupas tuntas semuanyaa....

...

berawal dari rasa keingintahuan yang besar untuk bisa go internasional dan mempunyai impian bisa tinggal di luar negeri, akhirnya memutuskan untuk mengikuti program magang pertanian dimana kampusku telah bekerjasama dengan kampus di luar negeri untuk mengikuti program ini. awalnya banyak keraguan dalam diri untuk join dalam program ini, seperti penguasaan bahasa inggris yang terbilang jauh dari kata "good", terus ketakutan dalam menghadapi "culture" yang berbeda, dan belum ada pengalaman keluar negeri sama sekali seumur hidup.

.
APA SIH YANG MEMBUAT AKU TETAP INGIN IKUT PROGRAM INI??
...
sering muncul di benak , "kenapa temen-temenku saja bisa merantau keluarnegeri, kenapa aku tidak", semenjak itu setelah lulus ujian skripsi tepatnya bulan oktober, aku mulai mengurus segala macam prasyarat untuk program ini, seperti passport, SIM A, dan melatih bahasa inggrisku. untuk SIM A sendiri, aku mulai berlatih mengemudi di kampung halaman , kalau tidak salah selama 2 minggu , sedangkan passport ku urus di tempat aku kuliah yaitu di bogor, sedangkan untuk bahasa, aku mulai membiasakan mendengar-menonton yang berbau inggris atau menggunakan subtitle inggris baik itu film atau bacaan. sering sekali tiap diajak berbicara bahasa inggris, aku sedikit malu atau tidak berani, padahal aku bisa dan mengerti apa yang diucapkan. terkadang banyak yang menertawai dan kadang juga baru bicara setengah udah dipotong karena salah penyebutan, itulah sebabnya aku sering kali tidak berani dalam berbicara english.
.
singkat cerita, setelah selesai magang 2 bulan di bogor sebelum lanjut di USA, akupun masi harus tinggal di bogor selama sebulan lamanya untuk mengurus seluruh berkas yang harus disiapkan untuk keberangkatan, seperti visa, interview dengan perusahaan disana dan masih banyak lagi. selagi menunggu, disinilah waktunya aku melatih skill bahasa inggrisku agar semakin mantap kedepan. mulai sering menonton film series kalau tidak salah judulnya "good doctor" yang banyak sekali kata-kata sulit dan dari situ aku mulai belajar, lalu mendengarkan musik dengan lirik dan melatih berbicara depan cermin hahaha karna masih sangat malu untuk berbicara dengan orang .
.
sedikit keluh kesah, selama sebulan aku sempat menyerah karena belum sama sekali memperoleh perusahaan mana yang akan aku datangi dan itu sangat-sangat membosankan. untungnya temanku mengajak untuk melatih otot-otot agar disana tidak terlalu mudah capek. yapss, selama 2 minggu pula aku nge-gym walaupun tidak sesering temanku hahaha. hari demi hari berlalu, sudah hampir pupus untuk mengikuti program ini, dan sudah hampir menyerah pula dalam melanjutkan program ini, tapi ayahku menelpon....

A : gimana kelanjutannya?
J : kayanya nyari kerja aja deh disini, nunggu lama bener
A ; lah kemarin semangat banget, kok sekarang udah nyerah aja
J : ya lagian lama, nunggu kelamaan yang ada ngabisin duit
A : tenang , ditunggu lagi aja sambil berdoa
J : oke deh...

setelah percakapan singkat itu, aku pun mulai tidak menyerah lagi dan masih optimis akan berangkat menuju USA, dan selalu berdoa juga.

.
.
.
dan setelah 2 minggu, akhirnya doaku terjawab juga .... (Next part 2)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Menjadi anak rantauan memang awalnya berat, kalo kata dilan sih “rindu itu berat, biar aku saja”, mungkin benar apa kata di film Dilan. Anak rantauan rentan terhadap penyakit homesick, kadang menyerang selama seminggu, sebulan bahkan ada yang terus-terusan. Berbeda dengan yang gw rasakan selama menjadi anak perantau, banyak yang bilang
“jod, gak kangen bali?”
“jod, kok gapernah pulang ke bali?”
“jod, keluarga gak kangen ya”
Honestly, gw pernah merasakan yang namanya homesick, tapi penyakit ini hanya menyerang sekitar 2 minggu dan ini di awal matrikulasi karena gw belum beradaptasi sama sekali dengan lingkungan bogor. Setelah menemukan teman, bahkan setelah menjelajah keliling bogor , gw menjadi akrab dengan bogor sebagai anak perantau. Bukan tidak mungkin kangen dengan keluarga nan jauh disana, sejujurnya gw begitu sangat kangen yang tak tertahankan bahkan di asrama gw pernah diem malem malem , dan berpikir “gimana kondisi orangtua dirumah yang sendirian”. Semenjak gw di bogor, orang tua gw tinggal berdua dan ditemani oleh seekor anjing. Kakak gw udah nikah, dan tinggal dengan suami, ya paling tidak pulang kerumah hanya sabtu-minggu itupun kalo ada waktu. Begitulah pemikiran gw, kadang sedih, kadang galau, tapi apa boleh buat kembali kepada keputusan yang gw buat dan harus dipertanggungjawabkan.
Alasan gw gamau terlalu kangen rumah :
1. Gw ingin membuktikan kalau gw bisa mandiri disini, karena gw dulu di cap anak mami ya kemana-mana selalu sama orangtua dan orang-orang gapernah percaya kalo gw bisa merantau
2. Gw ingin menunjukan kalo gw bisa berprestasi dan sukses walaupun kuliah jauh
3. Gw ingin membuktikan kalo keluar dari zona nyaman itu bener bener mengajarkan banyak hal .
Nah ini alasan, sebenernya untuk pulang kerumah gw dulu tiap liburan semester pasti balik, semenjak awal semester 5 gw memutuskan untuk tidak balik. Bukannya gak kangen, tapi sayang duit men, bayangin bolak-balik harus bayar berjuta-juta, even gw sedikit agak mampu dalam hal finansial, tapi kenapa duitnya gak dipake untuk sesuatu yang bermanfaat untuk menjadi anak perantau. Is it right?. Banyak hal yang gw lakuin setelah gw memutuskan gak balik ke bali, salah satunya kemarin melakukan magang bersama 24 orang temen gw, lumayan ngirit dan nambah kegiatan lah. Tapi , banyak juga orang-orang yang menjudge gw udah gak kangen sama keluarga , hahaha pasti banyak sih yang mikir gitu tapi selalu gw jawab dengan ketawa dan senyum.
Pengalaman selama gw menjadi anak rantauan banyak banget yang mengajarkan gw arti kehidupan, mulai dari pendewasaan diri, pengontrolan emosi, persahabatan, solving problem dan banyak lagi , bahkan ini yang gw jarang peroleh di tempat kelahiran gw. Kadang mulai percaya dengan kata-kata orang, “kalo kita bisa keluar dari zona nyaman , maka kita bisa mengupgrade diri sendiri’. Nah ini, sebelum gw keluar dari zona nyaman (zona nyaman yang gw maksut, nyaman tinggal dibali, dekat dengan orang tua, dan apa yang gw inginkan mudah diperoleh), bener-bener gw mempertimbangkan berbagai keputusan agar nanti tidak menimbulkan “reckless decision”. So, akhirnya gw bisa keluar dari zona nyaman dan bertemu dengan pembelajaran hidup yang baru. Tapi, banyak yang merasakan “gw sama ajatuh kalo keluar dari zona nyaman”, it depend on yourself, lu belum sadar akan pengupgradetan level diri lu , tapi lu nanti sadar ketika lu balik ke tanah kelahiran, dan lu bisa melihat cara pemikiran orang-orang dengan pemikiran lu.
Mungkin kalo orang baca tulisan gw ini, psti banyak berpikir memang selama lu SMP bahkan SMA gak ada pendewasaan diri?, ada pendewasaan diri, bahkan gw sudah diajarkan mandiri sejak SD, karna orang tua gw itu tipikal yang tidak mau melihat anaknya menjadi manja. Bahkan gw inget , kelas 1 SMA pas itu lagi sibuk sibuknya ujian kenaikan kelas, gw ditinggal sendiri dirumah selama ujian, sekitar seminggu lebih, kakak gw sibuk dengan ospeknya, ibu gw lagi mau di operasi jantung karena katupnya bocor, bapak gw kerja dan pulang kerja ya nemenin ibu gw dirumah sakit, kadang pulang itupun sebentar Cuma mandi dan ambil pakaian ganti untuk ibu gw. Nah disana gw hanya dikasi duit jajan, nyari makan sendiri, apa apa sendiri, dan tetep fokus sama ujian, yah banyak yang gw pikirkan waktu itu dan itulah yang membuat gw bisa merantau sekarang karena sudah terbiasa sejak dini. Pembelajaran yang banyak gw peroleh itu tentang pengontrolan emosi, selama 4 tahun kuliah, gw banyak menemui berbagai karakter-karakter orang mulai dari yang baik, keras kepala, jaim,manja, egois, banyak deh, dan karena mereka, gw bisa menemui solving problem untuk berteman dengan tipe-tipe orang yang seperti itu dan mulai bisa mengontrol emosi. Permasalahan yang ada di diri gw sendiri yaitu, gw tipikal yang gabisa marah ketika emosi, gak bisa musuhin temen lebih dari sehari dan paling parah gabisa nolak ajakan temen pasti selalu bilang “oke atau iya” (sekarang udah belajar nolak ajakan temen gara-gara sering dimarahin sama temen “kalo jadi orang jangan cepet mengiyakan jod, kadang itu baik tapi kadang itu bisa dimanfaatin”. Gimana ya, jadi diri gw ini susah, kalo nolak gw yang takut bikin orang itu gak respect lagi ke gw dan selalu kasihan liat orang hahaha. Berkat banyak pengalaman, tiap ada orang dengan tipikal yang berbeda, gw jadi tahu pendekatan yang cocok .

Nah ini pengalaman gw sebagai anak perantau yang orang-orang mungkin berkata biasa saja, tapi menurut gw ini luar biasa, dan terima kasih selama 4 tahun bisa bertemu kick ass people hahaha,


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Masih ingat tentang film fast and furious 7? Iya film terakhir mengenang kepergian paul walker, yang merupakan sahabat pembalap yang bernama Dom dalam film tersebut. Meski hanya sebuah film, tapi banyak pesan yang tersirat dari seluruh konsep film tersebut.
Salah satu kutipan yang dikatakan dom yaitu

“I Don’t Have Friend, I Have Family”


Banyak orang yang sering mengatakan bahwa , “buat apa memiliki banyak teman, jika hanya sedikit yang peduli” menurut aku tidak salah pernyataan tersebut, karena memang belum tentu semua teman yang kamu miliki, yang peduli denganmu belum tentu semua juga. Tapi ingatlah, tuhan menciptakan semua orang tidak ada yang sama, baik warna rambut, isi kepala, tingkah laku maupun kepribadian. Sebenarnya tidak salah memiliki teman yang banyak, dan jangan pernah menyalahkan juga akan kepribadian teman kalian yang tidak selalu sesuai dengan kepribadian diri sendiri.

Sedikit cerita , semenjak menjadi anak rantauan yang harus tinggal sendiri dan jauh dari keluarga, mengharuskan aku harus hidup mandiri. Yaa mandiri, menyelesaikan semua sendiri , yang awalnya dari SD hingga SMA orangtua selalu ikut serta secara langsung membantu, tapi kali ini tidak, orang tua hanya memberika support dan sangat terbantu. Tapi disinilah aku mulai mengenal bahwa keluarga itu tidak selalu terdiri dari ayah, ibu dan kakak. Keluarga definisinya sangat luas, bukan hanya yang kita kenal dari kecil hingga dewasa, tapi ya ini keluarga baru saya walaupun kita tidak ada hubungan darah tetapi kita sesame mahluk ciptaan tuhan sangat cocok untuk disebut keluarga.

Memiliki teman dari berbeda pulau dan SARA sangat banyak mengajarkanku arti sebuah pertemanan. Bukan berarti karena kita berbeda jadi kita tidak boleh berteman, justru pembeda lah yang mengajarkan kita arti sebuah keluarga dan pembeda mengajarkan kita bahwa hidup setiap orang berbeda, banyak pembelajaran yang kita peroleh dari teman teman sekitar, dari bagaimana cara berbicara dengan orang yang berbeda pulau, bagaimana cara berpikir tiap orang dan bagaimana tiap orang bertindak. Keluarga pertamaku memang yang selalu ada dirumah, yang selalu memberikan dukungan ketika sedang jatuh dan selalu bahagia ketika melihat kita bahagia, dan keluarga keduaku yaa disini, di tempat saya merantau.



Ketika aku dipertemukan dengan berbagai teman yang memiliki ciri khas masing-masing, aku jadi senang karena yang awalnya belum bisa beradaptasi di tanah rantauan, jadi mulai betah karena kehadiran mereka. Semula kupikir akan tidak bisa akrab seperti teman-teman SMA ku dulu, tapi itu hanya sebuah prasangka belaka, yang sampai sekarang semakin akrab bahkan hingga tingkat akhir. Kupikir dulu “apakah bisa aku diterima di kalangan mereka yang nyatanya aku minoritas disini”, yaa hal itu juga hanya sebuah prasangka yang nyatanya mereka sangat terbuka bahkan sangat seperti sebuah keluarga.


Mereka banyak mengajarkanku mengenai apa yang mereka miliki di daerah , bahkan kebaikan mereka membuat diriku semakin sadar bahwa tidak ada kata pembeda di dunia ini, semua sama, semua keluarga walau hanya dilahirkan ditempat yang berbeda.

Banyak hal yang kulalui bersama dengan mereka, mulai dari belajar bersama, jalan-jalan bahkan melakukan keseruan lainnya. Akupun menyadari nasehat orangtuaku dulu sebelum aku memulai untuk merantau, orangtuaku berpesan “ jika kita berbuat baik, maka tuhan akan mengirimkan orang baik disekitar kita, dan begitu sebaliknya” dan akupun dari kecil selalu diajarkan “jika ada orang yang memberikan satu kebaikan kepadamu, maka balaslah dengan 10 kebaikan , dan jangan menjadi pendendam serta selalu ingat sekecil apapun pengorbanan seseorang kepadamu”.


Makin lama aku selalu diberikan kesadaran bahwa tidak semua teman akan baik, dan tidak semua teman akan buruk. Kesadaran itu mengingatkan bahwa , manusia tidak ada yang sempurna, dan jangan pernah berpikir kalian memiliki teman yang sempurna yang seperti yang kalian harapkan, yang sempurna hanya milik sang pencipta. Maka daripada itu, jika ada teman yang mengatakan bahwa lebih baik punya 1 sahabat ketimbang memiliki 1000 teman. Mereka tidak salah, hanya saja semakin kita dewasa maka semakin tahu bahwa teman seperti apa yang sejiwa dengan kita, yang sepemikiran dengan kita maka hanya itu yang mengerti kita, seperti lagu Zona Nyaman (FOURTWNTY).

Waktu ke waktu perlahan ku rakit egoku

Merangkul orang-orang yang mulai sejiwa denganku

Ke-BM-an membukakan jalan mencari teman

Keluarlah dari zona nyaman



Pesanku dalam tulisan blog ini, seburuk-buruknya sifat temanmu, ingatlah, mereka pernah menolongmu dikala susah, mereka yang selalu ada dikala kamu senang, dan mereka yang rela tertawa agar kau tertawa dan berusaha membuatmu tegar ketika kamu sedih, yang kamu sendiri tidak pernah mengetahui tentang kondisi temanmu sebenarnya. Maka rangkulah temanmu, seperti kamu merangkul keluargamu, karena sedikit kebaikan yang kita lakukan kepada temanmu, suatu saat akan diingat dan menjadi kenangan indah.



_Jodi Indra Pujawan_

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
kali ini aku akan membagikan sedikit pengalamanku setelah selama 2 bulan untuk terjun langsung ke lapang dalam hal membantu warga desa untuk sadar akan pentingnya penggunaan lingkungan. kenapa aku menulis judul seperti diatas, yapss menurut orang-orang mungkin dengan hanya belajar saja di kampus dan mendengarkan dosen terus dapat nilai yang tinggi sudah baik, tapi coba saja jika langsung diterjunkan ke lapang? 50% mahasiswa pasti akan kebingungan dan akan sulit menerapkan ilmu yang selama ini diperoleh di bangku kampus.

inilah yang terjadi kepadaku dan teman-temanku lainnya. kuliah di kampus pertanian ternama di Indonesia tidaklah mudah seperti yang orang orang kira. mostly people said " kuliah di kampus pertanian berarti tau segala tentang pertanian dong". tidak semuanya seperti itu. kadang aku sadar, selama 4 tahun kuliah, masih banyak pengetahuan yang belum sama sekali aku kuasai dalam dunia pertanian. caranya gimana biar kita bisa tahu tentang pertanian semuamuanya? yak, dengan langsung terjun ke lapang, langsung mempraktikan ilmu yang diperoleh dan tidak segan belajar dengan parap petani bahkan warga sekitar. banyak ilmu yang aku peroleh bahkan yang asalnya tidak dari kampus, thats why terjun langsung ke lapang sangat sangat diperlukan.

Pengalamanku ini, ketika aku diminta tolong oleh temanku untuk membantu dia dalam proyekan dosen . seperti namanya proyekan, pasti dibayar hahahah maka daripada itu aku menyetujuinya.




Desa rancabungur, yang terletak di ciampea ( pasar ciampea lurus terus) , nah nama desa ini desa mawar ( bukan nama desa asli tapi ini desa program BKKBN yang memiliki nama desa mawar). Disini aku banyak belajar mengenai arti tanaman, bagaimana cara menanam, bagaimana cara merawat bahkan hingga panen.

Beruntung sekali aku mengikuti ajakan temanku untuk berdedikasi atau turun lapang langsung untuk mengaplikasikan ilmu yang selama ini diperoleh di kampus. Nah kalua ditanya mengenai warga-warganya, disini masyarakat sangat antusias dalam mengikuti program ini. Oiya, nama program nya program BKKBN jadi program keluarga berencana yang mengusung tema RTH ( Ruang Terbuka Hijau). Jadi program ini , mengajak masyarakat untuk sadar akan fungsi halaman , baik itu untuk pertanaman obat-obatan maupun sayur-sayuran yang nantinya bisa jadi sector ekonomi bagi pemilik rumah.







Nah ini foto ketika aku mengamati pertanaman di lahan salah satu warga. Disini warganya humble pisan , bahkan saking ramahnya, seringkali disuguhkan makanan yang mereka punya. Hehehehe. Nah ketika aku turun langsung bersama semua teman dan dosen dalam hal pertanaman, banyak yang aku awalnya tidak tahu dan sekarang jadi tahu. Ternyata teori yang kita pelajari kalua hanya ditulis ketika ujian tanpa turun lapang langsung , ya itu semua hanya sebatas teori semata. Dan tidak hanya itu saja, ketika warga disana menanyakan terkait perawatan, atau penyakit , aku langsung memberikan solusi jika aku tahu, jika tidak, aku mencoba bertanya baik kepada temanku maupun kepada dosen , yang pada akhirnya dapat menambah ilmu dalam hal pertanaman.






Setelah semua selesai, dan program pun selesai, harapanku , semoga nanti ini bisa menjadi contoh untuk desa sebelah atau seluruhnya lah bagaimana memanfaatkan lahan pekarangan sendiri dan banyak manfaat yang diperoleh jika kita kelola dengan baik serta harapanku untuk para mahasiswa pertanian dan seluruh mahasiswa dikampus, jangan hanya mencari nilai atau huruf mutu dikampus karna kalua kita tidak terjun langsung atau mempraktikannya, itu hanya sebuah huruf yang tidak berarti. Ada kalanya apa yang kita peroleh bisa berguna juga untuk orang-orang sekitar. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar




nah ini kami bekerjasama dengan greentv Institut Pertanian Bogor, check video lainnya di greentv IPB (youtube)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Well, ini pengalaman gue dan temen gue yang , “yah bisa di bilang pemula” untuk mengikuti suatu ajang kompetisi. Menurut gw, kompetisi yang gw ikutin ini gak sesuai hobby sih awalnya, apalagi dari SMA gak begitu suka tulis-menulis. Wahahahahaha, jadi awalnya tuh, ngikutin kompetisi ini karena pengen banget di per-kuliah-an itu punya prestasi, ya minimal satu lah. Setelah dipikir-pikir, dari IPK yang diperoleh gak begitu memuaskan, dan waktu selalu dipakai untuk organisasi dan kepanitiaan, nah karna itulah gw pengen banget punya satu prestasi juara sebagai suatu pengalaman dan untuk nambah-nambah CV setelah lulus.
Jadi ceritanya , dimulai dari obrolan di grup suatu media social yang bernama L**E (sensor). Nah jadi di medsos itu gw ada grup khusus anak anak “perkusi” hahahaha. Gatau kenapa tibatiba obrolan di grup sekali ini bener. Teruss..... salah satu temen gw ngeshare jarkoman lomba , yaps lomba karya tulis. Awalnya gw bercanda ngomong “ yuk ikutan, jarang2 ikutan kayak gini selama dikampus”. Eh ada satu temen gw yg nyletuk , sebut saja FIS, nah temen gw ini sama kayak gw yang pengen banget sekali kali punya prestasi. So, setelah obrolan panjang, langsung deh gw personal chat temen gw dan ngajakin untuk serius ikutan lomba karya tulis itu, akhirnya terbentuklah tim. Yah karna 1 tim maksimal 3 orang , dan kita hanya berdua, jadi memutuskan untuk mencari 1 orang lagi untuk diajak ikut serta dalam lomba ini. Awalnya gw ngajakin temen gw sebut saja FC, tapi temen gw nolak karna dia gapunya basic menulis, yaudah gue sih gamau maksa hhahahaha. Yaudah akhirnya gw ajakin temen lagi, sebut saja DSA, dan temen gw ini akhirnya setuju untuk ikut.
Singkat cerita, kami pun sudah terbentuk tim dan ide yang kami akan tuangkan kedalam karya tulis yaitu berdasarkan pengalaman kami selama magang pada saat liburan semester 5 kemarin yaitu “biotray”. Awalnya kami berpikir , kalo menggunakan bahan yang sama seperti pada saat magang cukup susah yaitu daun pisang karna hampir tidak semua daerah memiliki pohon pisang. Ide kami ini bermaksud agar setiap orang bisa menggunakannya tanpa harus berpikir bahannya. So, gw pun akhirnya konsultasi lah dengan kating yang sebelumnya juga pernah ikut kompetisi LKTI ini.
(SINGKAT CERITA)
YAPSSS...., ide pun sudah dan kami pun mulai begadang mengerjakan paper LKTI ini karna H-2 pengumpulan. Kami mengerjakannya semalam suntuk bahkan sampai subuh dan sampai matahari terbit lagi hahahaha. Setelah semua kelar, gw pun bersiap-siap untuk mengirimkan karya tulis itu.
(counting days)
Setelah beberapa lama menunggu hasil, JENG JENG JENGG.................. akhirnya karya tulis kami pun lolos dan masuk 10 besar untuk lanjut tahap FINALISSSS...... yapsss karna pemula jadi bangga bangettttttt. TAPIIIII..... badnews nya presentasi untuk tahap finalis sangat bertabrakan dengan waktu kami KKN (yaps pada saat itu kami udh semester 6 dan mengikuti kkn). Setelah semua bahan presentasi selesai dibuat , kamipun bersiap siap untuk pergi ke daerah tempat kkn masing2.
(didaerah tempat kkn )
Nah , bagian ini bagian paling amburadul kalo kata gw sih. H-7 untuk tahap finalis , kami pun bingung mau berangkat apa tidak. Alasan pertama, biaya bolak balik dari tempat kkn, menuju bogor, kemudian bolak balik pesawat jakarta-palembang. Alasan kedua, karna kami semua menjadi koordinator desa dan koordinator kabupaten( Cuma si FIS) susah juga untuk meninggalkan tempat kkn. Yapss bersyukur, untuk alasan pertama akhirnya gw pun curhat dengan salah seorang temen sebut saja FC, dia merupakan wakil dari himpro dikampus (tepatnya di departemen gw), nah setelah curhat panjanggg, yeay dipinjamkan lah duit sebagai bekal untuk ke palembang tapi dengan syarat akan dikembalikan dan harus bawa juara, susah juga kan yaaa. Untuk alasan kedua, lumayan susah karna harus berurusan dengan pihak dekan fakultas masalah ijin tapi untungnya ada adek tingkat yang bersedia membantu mengurusi perizinan walau hanya sementara dan sisanya diurus oleh DSA karna dia tempat kkn yang kalo pulang paling dekat dengan bogor. Setelah surat ijin jadi, kamipun masing-masing memohon perizinan baik itu kepada koordinator lapang, dosen pembimbing kkn, dan terakhir kepala desa. Untungya permohonan izin kami diterima , apalagi kepala desa tempat gw kkn sangat mengijinkan jika itu berhubungan dengan akademik dan kampus . wagelaseeehhh baik bangettt
(on road)
Nah kami pun bersiap untuk berangkat dan ini H-1 keberangkatan. Jadi gw dan FIS tempat kknnyaa di pekalongan , otomatis harus menggunakan kereta menuju bogor. Kami berangkat dengan kereta dari stasiun pekalongan jam 10.00 dan sampai di stasiun bogor pukul 18.00 dengan kondisi perut kosong (awalnya dibekali makanan oleh FIS yaitu nasi megono dan telur, lumayan energi kannn). Terus setelah sampai stasiun, lanjut memesan gojek menuju tempat kos masing, masing. Kemudian , pukul 20.00 kami pun berkumpul kembali untuk mempersiapkan presentasi esok hari. Keesokan paginya , pukul 07.00, kami berangkat naik damri menuju ke bandara soetta, dan sampai di palembang pada pukul 11an (lupa waktu).
Singkat cerita, kami sudah sampai di universitas tempat diadakan tahap finalis, kamar oke, teman teman baru oke, tapi jarak antara kampus dengan warung SANGAATTT JAUH , dalam hati (gak apa lah, Cuma 3 hari). Persiapan pun dimulai pada malam hari, kami berlatih presentasi bahkan sampe tertidur pulas dan esok subuh berlatih lagi. Yapsss, tahap presentasi pun dimulai, tim kami mendapat nomor urut 07, jadi kami bisa melihat para tim lain dengan gaya presentasi mereka masing-masing. Awalnya sih down, karna apa yang mereka bawa di tahap finalis sangat WAH kalo dibandingkan dengan yang kami bawakan yang hanya bermodalkan daun jagung. Whahahha, giliran kamipun tiba, oke presentasi dengan santai, pembawaan pun santai seperti SPG SPG di mall. Setelah presentasi, kini giliran juri berkomentar...................dan rada gapercaya, komentar semua juri bagus bagus, dan ada salah satu juri yang terpukau dengan ide yang kami bawakan. SUNGGU LUAR BIASA!!!!!.
Malam harinya , kamipun beristirahat dan berniat untuk keliling palembang dan mencoba pempek palembang, karna pesawat kami waktu keberangkatannya lebih cepat dibandingkan tim lainnya.
(singkat cerita)
Tahap pengunguman pun dimulai, kami awalnya degdegan, tapi melihat peserta lain yang MENAKJUBKAN dibandingkan kami, yaudahlah ya yang penting walaupun tidak juara tapi ada pengalaman dan dapat jalan jalan selagi kkn. Wahahhaha,....
Juara 3 sudah diumumkan, lalu juara 2, dan nama tim kami tidak ada, dalam hati “yah gamungkin juara satu, hmmm “. Akhirnya juara satu pun diumumkan, and you know apa yang terjadi, TIM KAMI MEMPEROLEH JUARA 1 wahahahahahahahahahahahahahahah. Its great moment guys, dan kami pun rasa rasa tidak percaya dan berpikir “wah baru pemula dan sudah bisa juara ya”. Wagelaseeehhhhh..... lalu kamipun sangat bertrimaksih kepada semua pihak dan mengungumkan di grup “perkusi” dan tidak berani dulu menyebarkan wahahahah tapi ujung ujungnya semua tersebarluas wahahahah. THANKSSS GOD
Pesannya
“ pengorbanan yang kami lakukan selama ini, sampai harus berkorban waktu dan materi terbayarkan dengan hasil yang memuaskan, dan kalian tahu pelajaran yang bisa diambil itu kalau kita ada niat dan ada usaha serta doa, niscaya impian kalian akan terwujud walaupun kalian hanya pemula atau sebelumnya tidak memiliki basic apa apa, karna kita disini semua berawal dari pembelajaran, dan doa serta usaha lah yang menghantarkan kita menuju impian kita”

SEKIAN CERITA SINGKAT SELAMA MENGIKUTI LOMBA, SEMOGA APA YANG DITULIS INI BISA SEBAGAI PEMACU SEMANGAT DAN JIKA ADA KESALAHAN KATA-KATA MOHON DIMAAFKAN.

Tertanda
Komang Jodi Indra Pujawan
Instagram : jodiindra





Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts

Popular Posts

total pageviews

Follow Us

  • twitter
  • instagram
  • youtube

Categories

  • achievement
  • storyoflife

Blog Archive

  • December 2019 (1)
  • April 2019 (1)
  • December 2018 (2)
  • June 2018 (2)

Created with by ThemeXpose